Jakarta, Belajar mengunyah dan menelan biasanya
dilakukan oleh bayi. Bahkan bayi yang baru lahir saja sudah bisa menelan
air susu ibu (ASI). Tapi seorang pria yang usianya sudah tergolong
sepuh harus belajar mengunyah dan menelan lagi.
Mahesh Khatre,
pria 53 tahun asal India ini tidak mampu menelan makanan. Ia adalah
korban kecelakaan tabrak lari. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya
perdarahan di otaknya.
Ia kehilangan kemampuan untuk menelan,
suatu tindakan yang 600 kali sehari dilakukan oleh orang dewasa sehat.
Kondisinya disebut oropharyngeal dysphagia, yang menyebabkannya tidak
bisa mengunyah makanan, menelan dan memindahkan makanan ke kerongkongan.
Tindakan
sederhana seperti menelan merupakan salah satu tugas yang paling rumit
dilakukan sistem saraf pusat. Hal ini membutuhkan koordinasi yang tepat
antara otak dan 50 pasang otot dan saraf di leher, sehingga memungkinkan
makanan mencapai perut, bukan ke paru-paru.
Salah koordinasi
sedikit saja dalam menelan, dapat mengubah atau bahkan mengancam
kehidupan. Seseorang bisa sesak napas karena tersedak air liur atau
cairan yang turun hingga kerongkongan. Seperti halnya bernapas, menelan
juga merupakan tindakan yang disengaja dan dikendalikan oleh otak.
Tapi
dalam kasus cedera otak atau gangguan saraf seperti Parkinson dan
Alzheimer, hubungan saraf penting antara otak dan leher terputus. Inilah
yang menyebabkan pasien harus bergantung pada tabung makan untuk tetap
bertahan hidup.
Mahesh mengalami kecelakaan pada bulan Juni lalu.
Ia tertabrak sepeda motor dan terluka di sisi kanan kepalanya. Meskipun
bisa langsung bangun, tapi ia merasa pusing dan memutuskan untuk
memeriksakan diri ke rumah sakit.
Dokter menemukan adanya
perdarahan otak dan harus segera dioperasi. Ia tak sadarkan diri selama 2
minggu dan harus mendapatkan bantuan ventilator.
"Ketika saya
sadar, tenggorokan saya kering dan saya menyadari bahwa saya tidak mampu
menelan apa pun, termasuk air liur saya. Saya lupa bagaimana cara
melakukannya. Saya menderita oropharyngeal dysphagia dan dokter
mengatakan saya harus belajar bagaimana untuk menelan lagi," jelas
Mahesh Khatre, seperti dilansir timesofindia, Sabtu (25/8/2012).
Otak
Mahesh mengalami keadaan hiper katabolik karena stres. Ia mulai
membakar 2.000-2.400 kalori setiap hari meskipun tidak melakukan apa-apa
kecuali berbaring di tempat tidur rumah sakit. Meskipun ia makan
suplemen, asupan gizinya tidak bisa mengikuti. Alhasil, pria ini
kehilangan 15 kg berat badan dalam dua bulan.
Banyak hal yang
bisa terjadi, malnutrisi, dehidrasi berat, pneumonia aspirasi (radang
paru-paru yang berasal dari menghirup udara tanpa filter).
"Yang saya butuhkan adalah mengajar diri sendiri bagaimana cara untuk menelan," tutupnya
Jumat, 24 Agustus 2012
Kamis, 23 Agustus 2012
Frustrasi Karena Jarang Bercinta Bikin Orang Nekat Merampok
Palm Bay, Florida, Bagi sebagian orang yang sudah aktif
secara seksual, bercinta adalah kebutuhan yang bisa bikin stres kalau
tidak dipenuhi. Saking frustrasinya, seorang laki-laki di Amerika
Serikat nekat merampok gara-gara tidak dilayani pasangannya.
Kepada polisi, James Seehaus (25 tahun) mengaku merampok gerai 7-Eleven di Palm Bay, Florida karena pasangannya selalu menolak ajakan untuk berhubungan seks. Karena tidak tahan, ia mengaku frustrasi dan tidak bisa mengendalikan perilakunya.
Bahkan ketika ditangkap pada 28 Juni 2012 silam, ia malah terkesan berterima kasih kepada polisi. Seperti dikutip dari News4jax, Jumat (24/8/2012), ia mengakui kalau tidak ditangkap saat itu juga, mungkin ia masih akan melakukan perampokan di beberapa tempat lain dengan alasan yang sama.
Sebelum ditangkap karena merampok toko, Seehaus juga sempat merampok sebuah stasiun pengisian bahan bakar dengan menodongkan sepucuk pistol ke petugas. Dengan senjata itu pula, ia menguras habis uang yang ada di kasir 7-eleven di 1925 Palm Bay Road.
Polisi mungkin tidak akan percaya begitu saja dengan pengakuan Seehaus bahwa ia merampok cuma karena frustrasi. Terlebih setelah diselidiki lebih lanjut, laki-laki ini juga punya tanggungan untuk melunasi asuransi mobilnya yang belum dibayar.
Meski agak sulit bagi Seehaus untuk membuktikan alasannya, berbagai penelitian memang menunjukkan bahwa aktivitas bercinta secara rutin bisa memberikan efek anti frustrasi. Orgasme secara teratur terbukti merangsang pelepasan oksitosin atau hormon pemicu rasa senang.
Stres yang berkelanjutan, apapun sebabnya bisa memicu perubahan perilaku kalau tidak dikendalikan. Ada yang jadi lebih pendiam lalu berujung pada kecenderungan untuk bunuh diri, ada juga yang menjadi lebih agresif dan membahayakan orang lain.
Kepada polisi, James Seehaus (25 tahun) mengaku merampok gerai 7-Eleven di Palm Bay, Florida karena pasangannya selalu menolak ajakan untuk berhubungan seks. Karena tidak tahan, ia mengaku frustrasi dan tidak bisa mengendalikan perilakunya.
Bahkan ketika ditangkap pada 28 Juni 2012 silam, ia malah terkesan berterima kasih kepada polisi. Seperti dikutip dari News4jax, Jumat (24/8/2012), ia mengakui kalau tidak ditangkap saat itu juga, mungkin ia masih akan melakukan perampokan di beberapa tempat lain dengan alasan yang sama.
Sebelum ditangkap karena merampok toko, Seehaus juga sempat merampok sebuah stasiun pengisian bahan bakar dengan menodongkan sepucuk pistol ke petugas. Dengan senjata itu pula, ia menguras habis uang yang ada di kasir 7-eleven di 1925 Palm Bay Road.
Polisi mungkin tidak akan percaya begitu saja dengan pengakuan Seehaus bahwa ia merampok cuma karena frustrasi. Terlebih setelah diselidiki lebih lanjut, laki-laki ini juga punya tanggungan untuk melunasi asuransi mobilnya yang belum dibayar.
Meski agak sulit bagi Seehaus untuk membuktikan alasannya, berbagai penelitian memang menunjukkan bahwa aktivitas bercinta secara rutin bisa memberikan efek anti frustrasi. Orgasme secara teratur terbukti merangsang pelepasan oksitosin atau hormon pemicu rasa senang.
Stres yang berkelanjutan, apapun sebabnya bisa memicu perubahan perilaku kalau tidak dikendalikan. Ada yang jadi lebih pendiam lalu berujung pada kecenderungan untuk bunuh diri, ada juga yang menjadi lebih agresif dan membahayakan orang lain.
Rabu, 22 Agustus 2012
Jika Masa Kecilnya Kurang Bahagia, Anak Cenderung Jadi Matre
Jakarta, Kebahagiaan memang tak dapat diukur dari
materi, tapi kebanyakan orang tetap berlomba-lomba mengejar dan menumpuk
materi untuk menjamin kebahagiaannya. Orang-orang yang terobsesi dengan
uang dan materi ini disebut materialistis atau matre. Sifat ini
ternyata bisa disebabkan karena masa kecil yang kurang bahagia.
"Anak-anak yang kurang puas dengan kehidupannya lebih rentan percaya terhadap iklan yang menunjukkan bahwa harta bisa meningkatkan kebahagiaan. Anak yang kurang bahagia tak hanya menderita masalah harga diri, tetapi juga cenderung tumbuh menjadi materialistis," kata peneliti, Suzanna Opree seperti dilansir Medical Daily, Kamis (23/8/2012).
Opree menggelar penelitian yang mensurvei 466 anak-anak dan tanggapannya terhadap pertanyaan mengenai materialisme. Misalnya anak diminta menjelaskan berapa banyak kekayaan yang dimiliki dibandingkan anak-anak lain, bahagiakah ia dengan kehidupannya, rumah, orangtua, teman, sekolah dan dirinya sendiri secara keseluruhan.
Selain itu, para peneliti juga memperhitungkan paparan iklan dan mengukur seberapa seringkah anak-anak menonton acara televisi yang menampilkan banyak iklan. Peneliti kemudian menganalisis pengaruh materialisme terhadap kepuasan hidup atau sejauh apa seorang anak merasa bahagia terhadap hidupnya berdasarkan paparan iklan.
Hasil penelitian yang dimuat jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa kepuasan hidup mempengaruhi sifat materialisme, tetapi hanya jika anak-anak sering menonton iklan. Makin bahagia seorang anak, maka ia akan makin kurang materialistis. Sedangkan anak yang kurang bahagia lebih cenderung menjadi materialistis.
Opree yakin bahwa kecenderungan ini sangat berhubungan dengan pesan-pesan iklan yang seolah-olah mengatakan bahwa dengan membeli produk ini akan membuat bahagia atau membuat jadi lebih populer. Apalagi anak-anak zaman sekarang dibombardir dengan banyak iklan.
Diperkirakan jumlah iklan untuk anak-anak setiap tahun bervariasi dari 10.000 iklan di Inggris sampai 40.000 iklan di Amerika Serikat. Sayangnya belum diketahui berapa banyak jumlah iklan untuk anak-anak di Indonesia setiap tahunnya.
Opree menyarankan kepada orangtua untuk membantu anak-anak agar berfokus pada sumber kebahagiaan selain uang, misalnya cinta, persahabatan dan permainan. Hal ini penting untuk mengurangi pengaruh iklan karena anak-anak yang materialistis cenderung menjadi kurang bahagia di kemudian hari.
"Anak-anak yang kurang puas dengan kehidupannya lebih rentan percaya terhadap iklan yang menunjukkan bahwa harta bisa meningkatkan kebahagiaan. Anak yang kurang bahagia tak hanya menderita masalah harga diri, tetapi juga cenderung tumbuh menjadi materialistis," kata peneliti, Suzanna Opree seperti dilansir Medical Daily, Kamis (23/8/2012).
Opree menggelar penelitian yang mensurvei 466 anak-anak dan tanggapannya terhadap pertanyaan mengenai materialisme. Misalnya anak diminta menjelaskan berapa banyak kekayaan yang dimiliki dibandingkan anak-anak lain, bahagiakah ia dengan kehidupannya, rumah, orangtua, teman, sekolah dan dirinya sendiri secara keseluruhan.
Selain itu, para peneliti juga memperhitungkan paparan iklan dan mengukur seberapa seringkah anak-anak menonton acara televisi yang menampilkan banyak iklan. Peneliti kemudian menganalisis pengaruh materialisme terhadap kepuasan hidup atau sejauh apa seorang anak merasa bahagia terhadap hidupnya berdasarkan paparan iklan.
Hasil penelitian yang dimuat jurnal Pediatrics menunjukkan bahwa kepuasan hidup mempengaruhi sifat materialisme, tetapi hanya jika anak-anak sering menonton iklan. Makin bahagia seorang anak, maka ia akan makin kurang materialistis. Sedangkan anak yang kurang bahagia lebih cenderung menjadi materialistis.
Opree yakin bahwa kecenderungan ini sangat berhubungan dengan pesan-pesan iklan yang seolah-olah mengatakan bahwa dengan membeli produk ini akan membuat bahagia atau membuat jadi lebih populer. Apalagi anak-anak zaman sekarang dibombardir dengan banyak iklan.
Diperkirakan jumlah iklan untuk anak-anak setiap tahun bervariasi dari 10.000 iklan di Inggris sampai 40.000 iklan di Amerika Serikat. Sayangnya belum diketahui berapa banyak jumlah iklan untuk anak-anak di Indonesia setiap tahunnya.
Opree menyarankan kepada orangtua untuk membantu anak-anak agar berfokus pada sumber kebahagiaan selain uang, misalnya cinta, persahabatan dan permainan. Hal ini penting untuk mengurangi pengaruh iklan karena anak-anak yang materialistis cenderung menjadi kurang bahagia di kemudian hari.
Selasa, 21 Agustus 2012
Orang Bisa Berubah Jadi Pemarah Karena Sakit Ini
Jakarta, Ketika ada orang marah-marah, penyakit yang
sering dikaitkan adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Padahal
hipertensi tak selalu membuat orang jadi pemarah, malahan ada gangguan
kesehatan lain yang lebih mempengaruhi temperamen.
Beberapa penyakit yang bisa meningkatkan agresivitas baik karena proses pengobatan maupun efek penyakitnya sendiri adalah sebagai berikut, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (22/8/2012).
1. Hipertiroid
Diperkirakan 1 dari 100 perempuan yang mengidap overactive thyroid atau hipertiroid juga mengalami perubahan mood atau suasana hati. Peningkatan denyut jantung serta temperatur tubuh akibat produksi tiroid yan berlebih membuat orang jadi lebih mudah marah.
2. Kelebihan kolesterol
Sekitar 7 juta pengidap hiperkolesterolemia atau kelebihan kolesterol di Inggris jadi lebih pemarah saat mengonsumsi statin, sejenis obat pengontrol kolesterol. Para ahli menduga, kolesterol yang turun mendadak membuat produksi serotonin atau hormon senang ikut berkurang.
3. Diabetes
Hipoglikemia atau turunnya kadar gula darah di bawah normal sering dialami penderita diabetes atau kencing manis, baik tipe 1 maupun 2. Berkurangnya kadar gula mempengaruhi fungsi otak, yang salah satu efeknya adalah peningkatan temperamen, kemarahan, bingung dan serangan panik.
4. Depresi
Gangguan kejiwaan ini menyebabkan produksi serotonin, yakni salah satu hormon pemicu rasa senang berkurang. Efeknya bisa sangat bervariasi, mulai dari kaki yang tidak bisa diam, insomnia dan juga termasuk marah-marah tanpa ada sebab yang jelas.
5. Alzheimer
Seseorang khususnya lansia yang sudah mulai pikun karena terserang Alzheimer biasanya jadi lebih sensitif dan mudah tersinggung. Perubahan struktur otak terutama di bagian frontal lobe menyebabkan emosi lebih sulit dikendalikan dibandingkan saat masih muda.
6. Pembengkakan hati
Istilah atau ungkapan 'berbesar hati' sering diartikan sebagai sifat sabar, namun hati yang besar karena mengalami sirosis atau pembengkakan sangat jauh dari sifat tersebut. Menurut penelitian, sirosis hati bisa memicu kondisi yang disebut hepatik enselopati dan bisa mengubah kepribadian.
7. Epilepsi
Pengidap epilepsi bisa mendadak marah-marah setelah mengalami serangan kejang. Diyakini, gejala yang bisa berlangsung hingga beberapa menit atau bahkan berhari-hari itu terjadi karena sirkuit saraf di otak mengalami gangguan selama kejang-kejang.
8. PMS (Pre Menstrual Syndrome)
Sudah bukan hal yang aneh jika dalam satu hari di dalam setiap bulannya seorang perempuan jadi lebih sensitif, mudah tersinggung atau marah-marah. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, namun hal itu sering terjadi menjelang menstruasi.
9. Insomnia
Untuk mengobati insomnia atau susah tidur, dokter sering meresepkan benzodiasepine yang juga merupakan obat mengatasi kegelisahan. Salah satu efek sampingnya adalah penurunan fungsi otak, yang membuat sekitar 1 persen pasien jadi lebih agresif.
10. Penyakit Wilson
Kelainan genetik yang menyerang 1 dari 30.000 orang ini menyebabkan penumpukan logam berat di otak dan hati. Penumpukan yang terlalu banyak di otak bisa menyebabkan kerusakan, salah satunya yang sering dilaporkan adalah memicu perubahan kepribadian jadi lebih pemarah.
11. Stroke
Kerusakan saraf otak sangat sering terjadi setelah serangan stroke. Jika kerusakan tersebut terjadi di bagian frontal lobe, maka kemampuan seseorang untuk mengontrol rasa empati, emosi dan juga agresi bisa sangat berkurang.
Beberapa penyakit yang bisa meningkatkan agresivitas baik karena proses pengobatan maupun efek penyakitnya sendiri adalah sebagai berikut, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (22/8/2012).
1. Hipertiroid
Diperkirakan 1 dari 100 perempuan yang mengidap overactive thyroid atau hipertiroid juga mengalami perubahan mood atau suasana hati. Peningkatan denyut jantung serta temperatur tubuh akibat produksi tiroid yan berlebih membuat orang jadi lebih mudah marah.
2. Kelebihan kolesterol
Sekitar 7 juta pengidap hiperkolesterolemia atau kelebihan kolesterol di Inggris jadi lebih pemarah saat mengonsumsi statin, sejenis obat pengontrol kolesterol. Para ahli menduga, kolesterol yang turun mendadak membuat produksi serotonin atau hormon senang ikut berkurang.
3. Diabetes
Hipoglikemia atau turunnya kadar gula darah di bawah normal sering dialami penderita diabetes atau kencing manis, baik tipe 1 maupun 2. Berkurangnya kadar gula mempengaruhi fungsi otak, yang salah satu efeknya adalah peningkatan temperamen, kemarahan, bingung dan serangan panik.
4. Depresi
Gangguan kejiwaan ini menyebabkan produksi serotonin, yakni salah satu hormon pemicu rasa senang berkurang. Efeknya bisa sangat bervariasi, mulai dari kaki yang tidak bisa diam, insomnia dan juga termasuk marah-marah tanpa ada sebab yang jelas.
5. Alzheimer
Seseorang khususnya lansia yang sudah mulai pikun karena terserang Alzheimer biasanya jadi lebih sensitif dan mudah tersinggung. Perubahan struktur otak terutama di bagian frontal lobe menyebabkan emosi lebih sulit dikendalikan dibandingkan saat masih muda.
6. Pembengkakan hati
Istilah atau ungkapan 'berbesar hati' sering diartikan sebagai sifat sabar, namun hati yang besar karena mengalami sirosis atau pembengkakan sangat jauh dari sifat tersebut. Menurut penelitian, sirosis hati bisa memicu kondisi yang disebut hepatik enselopati dan bisa mengubah kepribadian.
7. Epilepsi
Pengidap epilepsi bisa mendadak marah-marah setelah mengalami serangan kejang. Diyakini, gejala yang bisa berlangsung hingga beberapa menit atau bahkan berhari-hari itu terjadi karena sirkuit saraf di otak mengalami gangguan selama kejang-kejang.
8. PMS (Pre Menstrual Syndrome)
Sudah bukan hal yang aneh jika dalam satu hari di dalam setiap bulannya seorang perempuan jadi lebih sensitif, mudah tersinggung atau marah-marah. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, namun hal itu sering terjadi menjelang menstruasi.
9. Insomnia
Untuk mengobati insomnia atau susah tidur, dokter sering meresepkan benzodiasepine yang juga merupakan obat mengatasi kegelisahan. Salah satu efek sampingnya adalah penurunan fungsi otak, yang membuat sekitar 1 persen pasien jadi lebih agresif.
10. Penyakit Wilson
Kelainan genetik yang menyerang 1 dari 30.000 orang ini menyebabkan penumpukan logam berat di otak dan hati. Penumpukan yang terlalu banyak di otak bisa menyebabkan kerusakan, salah satunya yang sering dilaporkan adalah memicu perubahan kepribadian jadi lebih pemarah.
11. Stroke
Kerusakan saraf otak sangat sering terjadi setelah serangan stroke. Jika kerusakan tersebut terjadi di bagian frontal lobe, maka kemampuan seseorang untuk mengontrol rasa empati, emosi dan juga agresi bisa sangat berkurang.
Senin, 20 Agustus 2012
Sakit Gigi Saat Lebaran? Ini Solusinya
Jakarta, Keluhan gigi cenat-cenut sering dialami saat
sedang sibuk-sibuknya berlebaran karena kebersihan giginya terabaikan.
Gosok gigi secara teratur sebaiknya tetap dilakukan, atau minimal makan
buah berserat kalau memang tak punya waktu.
Padatnya aktivitas silaturahmi dan perjalanan jauh saat mudik diakui sangat menyita waktu. Bahkan untuk melakukan rutinitas gosok gigi 2 kali sehari, kadang-kadang tidak ada cukup waktu dan kalau sedang dalam perjalanan belum tentu menemukan air bersih.
Padahal kalau gigi tidak digosok, sisa-sisa makanan yang menumpuk di sela-sela gigi bisa memicu peradangan dan rasa nyeri yang sangat mengganggu. Apalagi kalau makan yang manis-manis, maka gosok gigi idealnya malah harus dilakukan lebih sering dari biasanya.
"Saya akui itu memang sulit dilakukan, tapi minimal usahakan kumur atau makan buah yang berserat dan berair," saran Drg Zaura Rini Anggraeni, MDS, ketua Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) saat dihubungi detikHealth, Selasa (21/8/2012).
Kebutuhan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut akan makin mendesak jika ada lubang yang belum ditambal. Sisa-sisa makanan yang terjebak dalam lubang tersebut bisa membusuk, lalu menyebabkan rasa sakit yang tidak tertahankan sampai membuat kepala berdenyut-denyut.
Oleh karenanya, Drg Zaura menyarankan untuk tidak menunda-nunda menambal gigi pada lebaran tahun depan kalau memang ada lubang. Selain mudah dilakukan di Puskesmas mana saja, biayanya juga relatif tidak mahal dan yang jelas menjamin kenyamanan selama berlebaran.
Sebagai solusi untuk mengatasi rasa nyeri akibat sakit gigi, Drg Zaura menyarankan untuk sesegera mungkin mengunjungi fasilitas kesehatan untuk periksa. Istirahat dan minum pereda nyeri yang dijual bebas juga bisa dilakukan sebagai solusi jangka pendek, sambil menunggu waktu untuk periksa.
Padatnya aktivitas silaturahmi dan perjalanan jauh saat mudik diakui sangat menyita waktu. Bahkan untuk melakukan rutinitas gosok gigi 2 kali sehari, kadang-kadang tidak ada cukup waktu dan kalau sedang dalam perjalanan belum tentu menemukan air bersih.
Padahal kalau gigi tidak digosok, sisa-sisa makanan yang menumpuk di sela-sela gigi bisa memicu peradangan dan rasa nyeri yang sangat mengganggu. Apalagi kalau makan yang manis-manis, maka gosok gigi idealnya malah harus dilakukan lebih sering dari biasanya.
"Saya akui itu memang sulit dilakukan, tapi minimal usahakan kumur atau makan buah yang berserat dan berair," saran Drg Zaura Rini Anggraeni, MDS, ketua Perhimpunan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) saat dihubungi detikHealth, Selasa (21/8/2012).
Kebutuhan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut akan makin mendesak jika ada lubang yang belum ditambal. Sisa-sisa makanan yang terjebak dalam lubang tersebut bisa membusuk, lalu menyebabkan rasa sakit yang tidak tertahankan sampai membuat kepala berdenyut-denyut.
Oleh karenanya, Drg Zaura menyarankan untuk tidak menunda-nunda menambal gigi pada lebaran tahun depan kalau memang ada lubang. Selain mudah dilakukan di Puskesmas mana saja, biayanya juga relatif tidak mahal dan yang jelas menjamin kenyamanan selama berlebaran.
Sebagai solusi untuk mengatasi rasa nyeri akibat sakit gigi, Drg Zaura menyarankan untuk sesegera mungkin mengunjungi fasilitas kesehatan untuk periksa. Istirahat dan minum pereda nyeri yang dijual bebas juga bisa dilakukan sebagai solusi jangka pendek, sambil menunggu waktu untuk periksa.
Minggu, 19 Agustus 2012
Ahli Gizi Membenarkan Manfaat Sehat Puasa Syawal 6 Hari
Jakarta, Bagi umat Islam, puasa syawal selama 6 hari
setelah lebaran bersifat sunah alias tidak wajib tetapi baik untuk
dilakukan. Bukan cuma ahli agama yang mengakui manfaatnya, tetapi juga
ahli gizi yang mengganggapnya sebagai masa transisi.
Selama bulan Ramadan, sistem pencernaan dikondisikan untuk bekerja lebih lambat dari biasanya karena ada perubahan pola makan. Selain tidak ada makan siang, jenis makanan yang dikonsumsi malam harinya cenderung lembut agar perut tidak bermasalah.
Begitu masuk hari raya, pola makan kembali normal karena puasa wajib sudah selesai. Agar perut tidak mengalami shock atau kekagetan, maka sistem pencernaan membutuhkan masa transisi yang biasanya memakan waktu antara 3 hari hingga 1 minggu.
"Sampai hari ketiga setelah lebaran, sebaiknya pilih makanan yang lembut-lembut. Tubuh perlu adaptasi di masa peralihan," kata Prof Dr Hardinsyah, ahli gizi dari Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Senin (20/8/2012).
Selain harus memilih makanan dengan tekstur lembut, jumlah atau porsinya juga harus dibatasi. Karena selama puasa tidak makan siang, maka sebaiknya sarapannya cukup setengah dari porsi biasa dan setengahnya lagi dipenuhi saat makan siang atau dengan cemilan.
Akan lebih baik lagi menurut Prof Hardinysah, jika umat Islam menjalankan puasa sunah selama 6 hari setelah lebaran hari pertama. Ritual yang sering disebut puasa syawal ini memang tidak wajib, namun ada hikmah yang bisa diambil dari sisi kesehatan jika dilakukan.
"Masa transisi memang sebaiknya satu minggu. Karena itu puasa syawal selama 6 hari itu sangat bermanfaat untuk mengendalikan masa transisi. Pahala itu sudah Yang di Atas yang meghitung, tapi memang ada hikmah dari balik itu semua kalau dilihat dari sisi kesehatan," pesan Prof Hardinsyah.
Selama bulan Ramadan, sistem pencernaan dikondisikan untuk bekerja lebih lambat dari biasanya karena ada perubahan pola makan. Selain tidak ada makan siang, jenis makanan yang dikonsumsi malam harinya cenderung lembut agar perut tidak bermasalah.
Begitu masuk hari raya, pola makan kembali normal karena puasa wajib sudah selesai. Agar perut tidak mengalami shock atau kekagetan, maka sistem pencernaan membutuhkan masa transisi yang biasanya memakan waktu antara 3 hari hingga 1 minggu.
"Sampai hari ketiga setelah lebaran, sebaiknya pilih makanan yang lembut-lembut. Tubuh perlu adaptasi di masa peralihan," kata Prof Dr Hardinsyah, ahli gizi dari Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Senin (20/8/2012).
Selain harus memilih makanan dengan tekstur lembut, jumlah atau porsinya juga harus dibatasi. Karena selama puasa tidak makan siang, maka sebaiknya sarapannya cukup setengah dari porsi biasa dan setengahnya lagi dipenuhi saat makan siang atau dengan cemilan.
Akan lebih baik lagi menurut Prof Hardinysah, jika umat Islam menjalankan puasa sunah selama 6 hari setelah lebaran hari pertama. Ritual yang sering disebut puasa syawal ini memang tidak wajib, namun ada hikmah yang bisa diambil dari sisi kesehatan jika dilakukan.
"Masa transisi memang sebaiknya satu minggu. Karena itu puasa syawal selama 6 hari itu sangat bermanfaat untuk mengendalikan masa transisi. Pahala itu sudah Yang di Atas yang meghitung, tapi memang ada hikmah dari balik itu semua kalau dilihat dari sisi kesehatan," pesan Prof Hardinsyah.
Sabtu, 18 Agustus 2012
Bayi Hebat, Kalahkan Kista yang Besarnya Seukuran Melon
Jakarta, Bayi ini lahir dengan kista di wajah yang
berukuran sebesar melon. Beruntung dokter berhasil mengangkat tumor
tersebut meski ia harus menerima tranfusi darah sebanyak 45 liter.
Mia Molyneux lahir dengan kista besar di sisi wajahnya, bahkan ukurannya lebih besar dari kepalanya sendiri. Ahli bedah berjuang untuk mengangkat pertumbuhan kista ini melalui operasi melelahkan selama 9 jam yang membuatnya butuh transfusi darah sebanyak 45 liter.
"Saya benar-benar ketakutan ketika ada sesuatu yang salah dengan Mia. Para dokter mendesak saya untuk mengakhiri kehamilan karena takut Mia mengalami kecacatan, tapi saya benar-benar menolak," ujar ibunya Michaela (20 tahun), seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (18/8/2012).
Dokter menyadari ada sesuatu yang salah dengan kehamilan Michaela setelah hasil scan USG menunjukkan ada pembengkakan yang sangat besar di wajah bayi yang dikandung. Saat usia kehamilan 36 minggu, Michaela melakukan scan MRI dan diketahui Mia memiliki kombinasi venous-lymphatic malformation.
Ketika pembuluh darah ini berkembang tidak normal maka bisa menyebabkan pembengkakan lokal, serta terkadang pembuluh darah ini berkembang abnormal di daerah yang sama.
Operasi caesar pun akhirnya dipilih karena persalinan normal terlalu berbahaya. Dokter melakukan prosedur berisiko yang mana memasukkan ventilator ke tenggorokan Mia sebelum tali pusat dipotong untuk membantunya bernapas.
Saat itu ada 18 dokter dan perawat yang ikut di dalam ruang operasi. Dia terpaksa dilarikan ke unit perawatan intensif akibat masalah di paru-parunya setelah lahir. Ketika Mia berusia 6 hari, ahli bedah memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan kista.
Dokter bedah menjelaskan ada risiko kista ini pecah dan mereka tidak mampu mengontrolnya. Jika hal itu terjadi, maka tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menolongnya.
"Saya merasa khawatir, tapi saya tahu bahwa dia berada di tangan para profesional dan paling aman. Mia mengalami pendarahan beberapa kali, tapi beruntung mereka bisa menghentikannya," ujar Michaela.
Setelah melakukan operasi selama 9 jam, Mia akhirnya keluar dari ruang operasi dan mulai melakukan pemulihan. Setelah operasi Mia terus dirawat oleh tim intensive care beberapa waktu sebelum akhirnya bisa dipindahkan ke bangsal bedah saraf.
"Ini adalah kasus yang sangat sulit dan langka dengan kondisi Mia yang sudah kritis. Risiko perdarahan juga menjadi tantangan, tapi beruntung kami bisa melakukannya dengan lesi yang sangat halus," ujar Dr Adam Donne, dokter bedah THT anak yang ikut operasi dari Alder Hey Children's Hospital.
Dr Donne menuturkan nantinya Mia membutuhkan operasi lebih lanjut, namun semua tim merasa senang dengan kemajuan yang sudah dimilikinya saat ini. Ini adalah contoh yang indah mengenai kerjasama yang baik untuk menyelamatkan nyawa bayi yang baru lahir.
Kini Mia telah berusia 20 minggu dan sudah kembali ke rumah keluarganya, ia pun tumbuh seperti balita normal pada umumnya. Orangtuanya pun merasa bangga dengan perjuangan Mia untuk bertahan hidup.
Mia Molyneux lahir dengan kista besar di sisi wajahnya, bahkan ukurannya lebih besar dari kepalanya sendiri. Ahli bedah berjuang untuk mengangkat pertumbuhan kista ini melalui operasi melelahkan selama 9 jam yang membuatnya butuh transfusi darah sebanyak 45 liter.
"Saya benar-benar ketakutan ketika ada sesuatu yang salah dengan Mia. Para dokter mendesak saya untuk mengakhiri kehamilan karena takut Mia mengalami kecacatan, tapi saya benar-benar menolak," ujar ibunya Michaela (20 tahun), seperti dikutip dari Dailymail, Sabtu (18/8/2012).
Dokter menyadari ada sesuatu yang salah dengan kehamilan Michaela setelah hasil scan USG menunjukkan ada pembengkakan yang sangat besar di wajah bayi yang dikandung. Saat usia kehamilan 36 minggu, Michaela melakukan scan MRI dan diketahui Mia memiliki kombinasi venous-lymphatic malformation.
Ketika pembuluh darah ini berkembang tidak normal maka bisa menyebabkan pembengkakan lokal, serta terkadang pembuluh darah ini berkembang abnormal di daerah yang sama.
Operasi caesar pun akhirnya dipilih karena persalinan normal terlalu berbahaya. Dokter melakukan prosedur berisiko yang mana memasukkan ventilator ke tenggorokan Mia sebelum tali pusat dipotong untuk membantunya bernapas.
Saat itu ada 18 dokter dan perawat yang ikut di dalam ruang operasi. Dia terpaksa dilarikan ke unit perawatan intensif akibat masalah di paru-parunya setelah lahir. Ketika Mia berusia 6 hari, ahli bedah memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan kista.
Dokter bedah menjelaskan ada risiko kista ini pecah dan mereka tidak mampu mengontrolnya. Jika hal itu terjadi, maka tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk menolongnya.
"Saya merasa khawatir, tapi saya tahu bahwa dia berada di tangan para profesional dan paling aman. Mia mengalami pendarahan beberapa kali, tapi beruntung mereka bisa menghentikannya," ujar Michaela.
Setelah melakukan operasi selama 9 jam, Mia akhirnya keluar dari ruang operasi dan mulai melakukan pemulihan. Setelah operasi Mia terus dirawat oleh tim intensive care beberapa waktu sebelum akhirnya bisa dipindahkan ke bangsal bedah saraf.
"Ini adalah kasus yang sangat sulit dan langka dengan kondisi Mia yang sudah kritis. Risiko perdarahan juga menjadi tantangan, tapi beruntung kami bisa melakukannya dengan lesi yang sangat halus," ujar Dr Adam Donne, dokter bedah THT anak yang ikut operasi dari Alder Hey Children's Hospital.
Dr Donne menuturkan nantinya Mia membutuhkan operasi lebih lanjut, namun semua tim merasa senang dengan kemajuan yang sudah dimilikinya saat ini. Ini adalah contoh yang indah mengenai kerjasama yang baik untuk menyelamatkan nyawa bayi yang baru lahir.
Kini Mia telah berusia 20 minggu dan sudah kembali ke rumah keluarganya, ia pun tumbuh seperti balita normal pada umumnya. Orangtuanya pun merasa bangga dengan perjuangan Mia untuk bertahan hidup.
Langganan:
Postingan (Atom)






